Jakarta - Ada harapan baru bagi penderita kegagalan hati yang kronik, seperti karsinoma sel hati dan sirosis hati. Liver yang sudah mengkerut, tidak bisa lagi berfungsi, dapat diganti dengan liver sehat dari pendonor. Caranya, dengan transplantasi hati teknik terbaru, yaitu mencangkok separuh dari liver pendonor.
Cara ini dapat menghindarkan ancaman kematian pada penderita penyakit hati kronik, yang disebabkan oleh infeksi Virus Hepatitis B dan C. Tingkat keberhasilannya tinggi, 75-85 persen pada tahun pertama. Bila survive ditahun pertama, 5-10 tahun lagi tidak menjadi masalah. Sayangnya, transplantasi hati menghabiskan biaya yang sangat mahal, dan belum dapat dilakukan di Indonesia.
Hal tersebut diungkapkan Prof dr Suwandhi Widjaja SpPD PhD, usai acara pengukuhannya sebagai Guru Besar Madya tetap bidang Ilmu Penyakit Dalam di FK Unika Atma Jaya, dengan pidato pengukuhannya berjudul "Berbagai Aspek Infeksi Virus Hepatitis B dan C di Jakarta, Kamis (25/1).
Menurut Guru Besar yang hari pengukuhannya bertepatan dengan HUTnya ke 58 ini, transplantasi hati adalah satu-satunya jalan keluar untuk mengobati penyakit hati kronik. "Untuk pengobatan pada penyakit hati yang sudah kronik, dimana liver sudah mengkerut, nggak ada jalan lain, ya diganti dengan liver baru," katanya.
Di Amerika, transplantasi hati dilakukan rutin, 5000 kasus per tahun. Dengan teknik terbaru, yaitu mencangkok separuh liver dari pendonor yang sehat, kepada yang sakit. Dalam tiga minggu, liver yang separuh tadi akan tumbuh kembali seperti semula.
Sekitar 90 persen transplantasi hati yang dilakukan di Amerika, akibat penyakit hepatitis B dan C stadium lanjut. Ada sekitar 10 orang Indonesia yang sudah menjalani transplantasi hati. Tapi semuanya dilakukan di luar negeri. Ada yang di Amerika, Australia, dan Singapura. Semuanya masih hidup.
Biaya transplantasi hati memang sangat mahal, sekitar 150 ribu hingga 300 ribu dolar AS. Namun, mengingat banyaknya penderita penyakit hepatitis B dan C, dengan angka kematian 40 ribu hingga 80 ribu penderita setiap tahun, Prof Suwandhi menekankan, Indonesia juga harus bisa melaksanakan transplantasi hati.
Pengobatan dengan beberapa teknik tertentu memang bisa dilakukan, tapi itu bersifat sementara. "Penderita penyakit hepatitis B dan C begitu banyak. Banyak yang meninggal karena penyakit ini. Kalau kita nggak bisa mengerjakan, akan menjadi sulit," tutur Prof Ayah dari dua anak ini.
Memang kendalanya tidak sedikit. Menurut Prof Suwandhi, untuk melakukan transplantasi hati, diperlukan kerjasama dari bermacam- macam ilmu kedokteran. Seperti ahli liver, ahli bedah, ahli farmakologi, perawatnya, intensifisnya, dan psikolognya, perlu diadakan kerjasama.
"Di Indonesia, mungkin baru lima tahun mendatang bisa dilakukan transplantasi. Banyak yang harus dipersiapkan, misalnya SDMnya, dananya, peralatan teknologinya, sampai sekarang belum siap," kata pakar penyakit dalam yang doktornya diperoleh di Belgia ini.
http://pusdiknakes.or.id












Perempuan di zaman ini mengalami pubertas yang jauh lebih awal dari masa sebelumnya.
Badan POM mengimbau masyarakat untuk bisa melindungi diri sendiri dengan tidak membeli produk tersebut.
Risiko seorang vegan yang tidak mengonsumsi daging, telur, dan susu hanya 14 persen, yang masih mengonsumsi daging dan susu plus merokok 70 persen.
Cara pandang para remaja terhadap seksualitas perlu diarahkan, agar mereka tidak salah menganggap hal alamiah itu menjadi sebuah aktivitas yang biasa untuk dilakukan bagi kalangan usia muda.
Indonesia merupakan salah satu negara yang menyepakati tujuan milenium MDGs dengan target 5b berupa peningkatan jumlah prevalensi kontrasepsi 