Aedes Aegypti merupakan faktor utama penyakit demam berdarah dengeu (DBD) dan Chikungunya. Di Indonesia telah dilaporkan semua daerah perkotaan telah ditemukan adanya nyamuk tersebut. Faktor penting bagi penyebaran nyamuk tersebut adalah transportasi dan banyaknya perpindahan penduduk. Spesies Aedes Aegypti merupakan nyamuk yang mempunyai habitat di pemukiman dan habitat stadium pradewasanya pada bjana buatan yang berada di dalam ataupun di luar rumah yang airnya relatif jernih. Di Jakarta, jentik Aedes Aegypti ditemukan di tempat penampungan air seperti vas bunga, tempayan, drum yang terbuat dari plastik ataupun besi, bak mandi bahkan tanah padat yang terdapat pada pot tanaman yang mengeras, dan tempat minum burung.
Berbagai cara pengendalian vektor telah dilakukan, yaitu nyamuk dewasa dengan pengasapan (fogging) dan stadium pradewasa dengan menggunakan bubuk Abate serta pemberantasan nyamuk yang dikenal dengan PSN. PSN merupakan cara yang lebih aman, murah dan sederhana. Oleh sebab itu kebijakan pemerinytah dalam pengendalian vektor DBD menitik bertakan pada program PSN ini, walaupun cara tersebut sangat tergantung pada peran serta masyarakat. Meskipun cara-cara tersebut telah dilakukan di seluruh wilayah Jakarta, namun hasilnya belum berhasil mencegah munculnya kejadian luar biasa (KLB). Bahkan menjadi daerah endemis, sebab transmisi virus dengeu masih tetap berlangsung. Oleh karena itu, pengendalian vektor yang diterapkan selama ini masih perlu disempurnakan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Apak ovitrap dapat menyempurnakan pengendalian vektor DBD tersebut ?
Perilaku Aedes Aegypti
Aedes sp. mempunyai habitat pada tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, drum air, tempayan, ember, kaleng bekas, vas bunga, botol bekas, potongan bambu, aksila dauun dan lubang-lubang yang berisi air jernih.
Menurut hasil pengamatan yang dilakukan di Kelurahan Papanggo, Kodya Jakarta Utara khususnya tempat penampungan air (TPA) rumah tangga menunjukkan bahwa TPA yang paling banyak ditemukan jentik dan pupa nyamuk Ae. aegypti adalah jenis tempayan yang terbuat dari tanah dan drum besar . Kemungkinan penyebabnya adalah karena TPA seperti tempayan mempunyai resiko pecah bila dikuras,selain karena volumenya besar sehingga sulit dikuras. Alasan semacam ini juga berlaku di wilayah lain. Di Singapura pada tahun 1996 telah dilakukan penelitian habitat breeding places Aedes dengan hasil dteksi sebagai berikut :
Habitat di rumah tangga sebesar 21,9% yang terdiri dari ember, drum, tempayan, baskom
Barang bekas yang berisi air 18,7%
Tempat air untuk tanaman hias antara lain vas bunga dan pot tanaman 17%
Lekukan lantai 8,7%
Terpal/plastik 8,3%
Di daerah perkotaan habitat nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus sangat bervariasi, tetapi 90% ditemukan pada wadah-wadah buatan manusia. Fay. dkk menyatakan bahwa ovitrap rancangannya dapat dipergunakan sebagai alat pemantau populasi Ae. aegypti yang bersifat sederhana, murah, cepat dan mudah, terutama bagi daerah yang padat populasi vektornya rendah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku Ae. aegyti meletakkan telurnya antara lain jenis dan warna penampungan air, airnya sendiri, suhu kelembaban dan kondisi lingkungan setempat. Maka berdasarkan kepada sifat dan perilaku nyamuk Ae. aegypti tersebut diatas, ovitrap memenuhi persyaratan habitat dan perilaku nyamuk agar dapat dipakai sebagai perangkap telur yang baik sehingga berfungsi secara optimal. Perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti tidak tergantung pada musim hujan, walaupun jumlah kasus Demam Berdarah di Indoensia kelihatannya bertambah selama musim penghujan.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 1993-1994 bahkan menyimpulkan bahwa kepadatan populasi nyamuk Aedes aegypti di Jakarta tidak berkorelasi dengan curah hujan. Penelitian yang dilakukan oleh Hadi Suwasono (Korelasi antara evaluasi kepadatan Aedes Aegypti dengan ovitrap terhadap kasus DBD di Jakarta, 1998) mempertegas bahwa jumlah telur yang terperangkap pada ovitrap berkorelasi positif tidak nyata dengan kasus DBD yang terjadi.
Oleh sebab itu seperti diulas salah satu televisi swasta, masyarakat semestinya melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Sebab jika hal tersebut tidak dilakukan, ancaman siklus lima tahunan penyakit demam berdarah dangue akan terjadi. Upaya yang dapat dilakukan masyarakat adalah 3 M, menguras, menutup dan menimbun.












