HUBUNGAN ANTARA DIET RENDAH GARAM DENGAN PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI RESISTAN
Pilar utama penanganan hipertensi ada dua, yaitu modifikasi gaya hidup dan pemberian obat antihipertensi. Hipertensi resistan ditandai dengan tekanan darah yang selalu di atas target, di mana penggunaan tiga obat antihipertensi pun tidak dapat menurunkan tekanan darah. Lalu bagaimanakah peran modifikasi gaya hidup, khususnya pembatasan jumlah garam dalam diet (makanan sehari-hari), terhadap hipertensi resistan? Ternyata menurut penelitian dari American Heart Association (2009), memang ada hubungan bermakna antara konsumsi garam dengan tekanan darah.
Uji klinis menyatakan 20%-30% pasien hipertensi resistan terhadap penggunaan beberapa obat antihipertensi. Di sinilah penurunan konsumsi garam dianggap penting untuk pengendalian hipertensi resistan; karena konsumsi garam dalam jumlah rendah dapat mempengaruhi penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi, dengan mempengaruhi volume retensi dan kekakuan pembuluh darah. Adapun jumlah garam yang dianjurkan dalam makanan sehari adalah tidak lebih dari 100 mmol natrium (setara dengan 2.4 gram garam dapur).
Penelitian terhadap para penderita hipertensi menunjukkan adanya korelasi yang lebih kuat antara garam dalam makanan dan tingkat hipertensi daripada orang dengan tekanan darah normal. Pembatasan garam dalam makanan dapat menurunkan tekanan darah sistolik 2-10 mmHg dan diastolik 1-6 mmHg. Selain itu; pernah pula dilakukan penelitian pada pasien hipertensi ringan-sedang (tekanan darah sistolik 120-159 mmHg, diastolik 80-95 mmHg) yang secara acak diberikan diet DASH/Dietary Approach to Stop Hypertension (yaitu diet kaya sayur, buah, dan rendah lemak) dan diet kontrol. Setiap kelompok diberikan diet garam dalam beberapa tingkatan (1,2; 2,4; dan 3,6 gram/24 jam) selama 30 hari berturut-turut. Setelah 30 hari, penderita yang mendapat diet DASH serta diet rendah garam mengalami penurunan tekanan darah sistolik sebesar rata-rata 11,5 mmHg. Penelitian Fotherby et al terhadap pasien-pasien dengan hipertensi berat (tekanan darah rata-rata 176/96 mmHg); menunjukkan bahwa setelah mereka mendapat diet rendah garam (1,9-2,4 gram/24 jam) selama 5 minggu, tekanan darah sistolik turun 5 mmHg dan diastolik turun 2 mmHg. Sedangkan menurut Gavras et al, pada pasien yang tekanan darahnya tidak terkontrol dengan kombinasi minimal dua obat dalam dosis maksimal (diuretik dan beta-bloker); penurunan tekanan darah lebih nyata setelah dilakukan pembatasan ekstrim terhadap jumlah garam dalam diet dan terapi diuretik intensif. Adapun pada pasien dengan hipertensi resistan yang sangat sensitif terhadap garam, diet rendah garam dapat menurunkan tekanan darah sebanyak rata-rata 22,7/9,1 mmHg.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa diet rendah garam sangat dianjurkan bagi pasien hipertensi resistan sebagai bagian dari pengelolaan hipertensinya.
Kepustakaan:
Pimenta E, Gaddam KK, Oparil S, et al. Effects of Dietary Sodium Reduction on Blood Pressure in Subjects With Resistant Hypertension Results From a Randomized Trial. Hypertension 2009; 54: 475-481.












