www.pharosindonesia.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • black color
Home News & Media Penatalaksanaan Pencegahan Kasus Bunuh Diri

Penatalaksanaan Pencegahan Kasus Bunuh Diri

Kasus bunuh diri terus meningkat. Laporan ETHICAL DIGEST dari simposium nasional “Pencegahan Bunuh Diri yang Dirangkai Dengan Gangguan Bipolar” di Surabaya.

Bunuh diri merupakan masalah kesehatan yang sangat komplek. Di Indonesia, angkanya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Simposium Nasional “ Pencegahan Bunuh Diri yang dirangkai dengan Gangguan Bipolar” diselenggarakan 18-19 April 2009 di Hotel Sheraton, Surabaya. Diketahui, angka bunuh diri di Jakarta selama tahun 1995-2004 menunjukkan 5,8/100.000 penduduk. Angka ini lebih kecil dari apa yang dikemukakan Benedetto Saraceno (WHO,2005), yang menyatakan angkanya 24/100.000 penduduk pertahun. Angka di Jakarta, hampir seimbang dengan kejadian di Cina dan India.

Sejak 6 tahun belakangan, WHO bekerja sama dengan ISAP ( the International Association for suicide prevention) membangun kesadaran akan pentingnya usaha pencegahan bunuh diri (suicide prevention). Usaha ini menjadi penting, karena semakin terpuruknya masyarakat. Hal itu disebabkan antara lain oleh dampak negatif globalisasi di negara berkembang; keterpurukan kondisi finansial yang merambah pada masalah sosial dan ketidak pastian akan masa depan dalam masyarakat; meruaknya berbagai bencana yang disebabkan oleh manusia sendiri.


Dewasa

Secara umum, profil individu dewasa yang berisiko melakukan bunuh diri dikaitkan dengan gender (pria vs wanita dengan rasio 2,2 : 1), usia produktif (15-35 tahun), riwayat keluarga melakukan bunuh diri menderita penyakit kronis, mempunyai gangguan mental dan emosional, terisolasi dari sisi sosial, pengguna NAPZA, serta mempunyai riwayat kekerasan dalam rumah tangga.

Hampir semua orang dewasa yang memperlihatkan perilaku bunuh diri, menderita gangguan psikiatrik yang mendasar. Karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan yang mendalam mengenai faktor yang melatar belakangi. Seperti : faktor kontribusi, faktor kerentanan, faktor potensi dan faktor yang mempercepat usaha bunuh diri. Menurut dr. Nalini Muhdi Sp.KJ (K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa, RSU Dr. Soetomo FK. Universitas Airlangga, Surabaya, interaksi antara faktor biologik, psikologik, sosial kultural dan faktor-faktor konstektual memegang peranan sangat penting, yang akan mempengaruhi resiko perilaku bunuh diri.

Dari beberapa data, kebanyakan pria melakukan usaha bunuh diri dengan cara yang fatal (completed suicide). Sedangkan pada perempuan, lebih sering melakukan percobaan bunuh diri (attempted suicide). Yang perlu diwaspadai, perempuan pasca melahirkan mempunyai risiko tinggi terutama pada mereka yang mengalami depresi.

Penanganan penderita harus komprehensif, serta memerlukan ketrampilan dan pemahaman yang baik. Dalam penanganannya, terdapat 3 area yang intervensi yang harus diidentifikasikan. Seperti : gangguan mental, situasi psikososial yang menekan, pola maladaptif pikiran yang menetap, emosi dan perilaku terutama yang berkaitan dengan cara menghadapi masalah.


Lansia

Cara bunuh diru lansia (lanjut usia) berbeda dengan orang dewasa. Pada lansia terkesan lebih serius dan mematikan, namun dalam jumlah yang relatif sedikit. “Ide bunuh diri (suicidal ideation) pada lansia disebabkan oleh gangguan faali, pengalaman pada masa anak-anak, stressor terkini, gangguan psikiatrik dan penyakit fisik yang menyerang mereka (physical frailty),” ujar Prof. Dr. Marlina S Mahajudin, Sp.JK (K) dari Departemen Psikogeriatri dan Perawatan Paliatif FK. Universitas Airlangga RSU.Dr Soetomo, Surabaya.

Beberapa penelitian membuktikan adanya ciri kepribadian tertentu, yang melatar belakangi. Seperti pada penelitian Harwood (2001), yang membuktikan adanya ciri anankastik dan ciri pencemas pada lansia yang melakukan bunuh diri. Gangguan psikiatrik yang paling sering melatar belakangi tindakan bunuh diri, adalah adanya gangguan depresi. Rasa kehilangan (loss) orang yang dicintai dan menurunnya kekuatan fisik karena usia, merupakan cikal bakal terjadinya depresi.

Penatalaksanaan pada lansia yang pernah mengalami kegagalan dalam melakukan percobaan bunuh diri, adalah dengan mencegah berulangnya percobaan bunuh diri. Dilanjutkan dengan pengarahan dan bimbingan melalui psikoterapi, terapi kognitif maupun terapi dari pihak keluarga, untuk mendapatkan hidup yang penuh arti (the meaningful life) sampai akhir hayat lansia.

Pemberian psikofarmaka untuk mengatasi gangguan psikiatrik, harus mentaati kaidah Individual Tailored and Start Low, Go Slow. Penggunaan obat harus diperhitungkan berdasarkan kepekaan, maupun kondisi tubuh lansia. Dengan diawali dosis rendah dan bila diperlukan kenaikan dosis, lakukan secara bertahap dan perlahan.

 

ADD_YOUR_COMMENT

YOURALIAS:
YOUREMAIL:
Title:
FULLTEXT: